review-komik-monster

Review Komik Monster

Review Komik Monster. Komik Monster karya Naoki Urasawa tetap menjadi salah satu karya paling dihormati dan sering dibaca ulang hingga Januari 2026 ini, hampir dua dekade setelah seri ini selesai terbit pada 1994–2001. Dengan total 18 volume, cerita ini mengikuti Dr. Kenzo Tenma, ahli bedah saraf jenius di Jerman, yang menyelamatkan nyawa seorang anak laki-laki misterius bernama Johan Liebert—keputusan yang kemudian mengubah hidupnya menjadi perburuan panjang melawan monster manusia yang ia ciptakan sendiri. Berlatar Eropa pasca-Perang Dingin, Monster menggabungkan thriller psikologis, drama moral, dan misteri identitas dalam narasi yang lambat tapi tak pernah kehilangan ketegangan. Di tengah maraknya cerita thriller modern yang sering mengandalkan twist cepat, Monster justru terasa semakin kuat karena pendekatannya yang mendalam, karakter yang kompleks, dan pertanyaan etis yang tak pernah memberi jawaban mudah. BERITA BOLA

Narasi Psikologis yang Mendalam dan Lambat Terbangun: Review Komik Monster

Salah satu kekuatan terbesar Monster adalah cara Urasawa membangun ketegangan secara perlahan tanpa pernah terasa membosankan. Cerita dimulai dari keputusan etis Tenma yang sederhana—menyelamatkan anak daripada walikota—tapi berkembang menjadi perjalanan panjang melintasi Eropa Timur dan Barat, mencari Johan yang kini menjadi sosok manipulatif tanpa jejak emosi. Setiap arc terasa seperti bab novel thriller klasik: misteri anak yatim piatu, eksperimen psikologis masa kecil, dan jejak pembunuhan yang selalu mengarah kembali ke masa lalu. Urasawa tidak pernah terburu-buru mengungkap rahasia Johan; sebaliknya, dia membiarkan pembaca merasakan ketakutan yang sama dengan Tenma—bahwa monster ini bukan makhluk supernatural, melainkan produk dari trauma, manipulasi, dan kekosongan manusia. Dialognya tajam dan realistis, sering kali penuh keheningan yang lebih menyeramkan daripada kata-kata. Di era 2026 ini, ketika banyak cerita thriller terasa formulaik, pacing lambat Monster justru menjadi kelebihan—memberi ruang bagi pembaca untuk merenung, merasa takut, dan bertanya pada diri sendiri: apakah monster itu lahir atau dibuat?

Karakter yang Hidup dan Konflik Moral yang Tak Hitam-Putih: Review Komik Monster

Karakter di Monster adalah yang membuat seri ini abadi. Tenma bukan pahlawan sempurna; dia penuh keraguan, rasa bersalah, dan pertanyaan tentang apakah hidupnya layak setelah “menciptakan” Johan. Johan Liebert sendiri adalah salah satu antagonis paling menyeramkan dalam sejarah komik—bukan karena kekuatan fisik, tapi karena kemampuannya memanipulasi orang lain hingga mereka menghancurkan diri sendiri. Dia tidak marah, tidak dendam; dia hanya “membantu” orang menemukan kegelapan dalam diri mereka. Karakter pendukung seperti Nina Fortner (saudara kembar Johan), Inspector Lunge yang obsesif, atau Eva Heinemann yang hancur secara emosional punya arc yang kuat dan tragis, membuat pembaca peduli pada hampir semua orang meski mereka sering bertindak salah. Konflik moralnya tak pernah sederhana—tidak ada yang benar-benar baik atau jahat sepenuhnya, dan keputusan Tenma untuk mengejar Johan justru membuatnya bertanya apakah dia juga menjadi monster. Di tengah diskusi modern tentang trauma, manipulasi psikologis, dan tanggung jawab individu, tema-tema ini terasa lebih tajam daripada dulu.

Seni yang Mendukung Atmosfer Gelap dan Realistis

Seni Naoki Urasawa di Monster sederhana tapi sangat efektif. Garis-garisnya bersih, ekspresi wajah sangat detail, dan panel-panel besar sering digunakan untuk momen hening atau close-up mata yang kosong—menciptakan rasa dingin yang merayap. Latar belakang Eropa pasca-Perang Dingin digambar dengan akurat: rumah sakit steril, jalan kota yang sepi, desa terpencil yang menyimpan rahasia. Tidak ada efek dramatis berlebih; justru kesederhanaan itulah yang membuat horornya terasa nyata. Wajah Johan yang tampan tapi tanpa jiwa menjadi salah satu visual paling ikonik—senyum tipis yang membuat bulu kuduk merinding. Di era komik digital yang penuh warna cerah, hitam-putih Monster terasa seperti film noir klasik yang hidup di kertas, memperkuat nuansa psikologis dan ketidaknyamanan yang menjadi inti cerita.

Kesimpulan

Monster adalah salah satu komik terbaik yang pernah dibuat—sebuah thriller psikologis yang lambat, mendalam, dan tak kenal kompromi dalam mengeksplorasi kegelapan manusia. Dengan karakter yang hidup, narasi yang cerdas, dan seni yang mendukung atmosfer sempurna, seri ini berhasil mengubah pertanyaan sederhana “siapa monster sebenarnya?” menjadi perjalanan panjang yang menyiksa sekaligus memikat. Di awal 2026 ini, ketika dunia masih bergulat dengan isu manipulasi, trauma, dan batas moral, Monster terasa lebih relevan daripada sebelumnya. Bagi pembaca yang mencari cerita yang tidak hanya menghibur tapi juga mengganggu dan membuat berpikir lama setelah selesai, komik ini bukan sekadar bacaan bagus—ini adalah pengalaman yang mengubah cara memandang kebaikan, kejahatan, dan apa yang ada di antara keduanya. Sampai kapan pun, selama manusia masih bertanya tentang sifat sejati diri sendiri, Monster akan tetap menjadi cermin yang paling tajam dan gelap.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *