review-komik-the-drifting-classroom

Review Komik The Drifting Classroom

Review Komik The Drifting Classroom. Komik The Drifting Classroom karya Kazuo Umezu tetap menjadi salah satu karya horror survival paling legendaris dan mengganggu di dunia manga hingga sekarang. Diserialkan dari 1972 hingga 1974 di majalah Weekly Shonen Sunday, seri ini terdiri dari 11 volume dan mengikuti kisah siswa serta guru sebuah sekolah dasar yang tiba-tiba terlempar ke masa depan yang mengerikan. Seluruh gedung sekolah melayang dan mendarat di gurun tandus pasca-apokaliptik, di mana tidak ada makanan, air bersih, atau tanda kehidupan normal. Umezu tidak sekadar membuat cerita petualangan anak-anak; ia membangun neraka psikologis yang brutal, di mana anak-anak harus menghadapi kelaparan, penyakit, kegilaan, dan monster aneh sambil berjuang mempertahankan kemanusiaan mereka. Meski sudah lebih dari lima dekade berlalu, komik ini masih sering disebut sebagai pionir genre survival horror di manga karena realisme gelap dan kedalaman emosional yang jarang ditemui di karya sezamannya. BERITA BOLA

Plot yang Penuh Ketegangan dan Kehancuran Bertahap: Review Komik The Drifting Classroom

Cerita dimulai secara mendadak: seluruh sekolah dasar Yamato tiba-tiba berguncang hebat dan terpisah dari dunia luar. Saat siswa kelas enam seperti Sho Takamatsu dan teman-temannya keluar, mereka menemukan dunia yang sudah hancur: langit merah darah, tanah gersang, dan bangunan-bangunan runtuh yang ditumbuhi tanaman aneh. Tidak ada penjelasan ilmiah yang jelas pada awal—hanya ketidakpastian total yang membuat ketakutan semakin dalam. Kelompok anak-anak harus memilih pemimpin, mencari makanan, dan bertahan dari ancaman seperti serangga raksasa, penyakit misterius, dan kelompok penyintas lain yang sudah kehilangan akal sehat. Umezu membangun plot dengan ritme lambat tapi menyesakkan: awalnya fokus pada konflik internal seperti perebutan kekuasaan dan rasa takut, lalu semakin gelap dengan kematian demi kematian yang brutal. Setiap arc memperkenalkan ancaman baru—dari badai pasir hingga makhluk mutan—sambil menunjukkan bagaimana anak-anak berubah dari polos menjadi dewasa paksa atau malah menjadi monster. Akhir cerita memberikan penjelasan yang tragis dan filosofis, membuat pembaca merenung lama setelah selesai.

Tema Kelangsungan Hidup, Hilangnya Kepolosan, dan Kemanusiaan di Ujung Tanduk

Salah satu kekuatan terbesar The Drifting Classroom adalah cara Umezu menggambarkan kehancuran kepolosan anak-anak di tengah krisis total. Sho, sebagai tokoh utama, mulai sebagai anak biasa yang takut dan ragu, tapi dipaksa menjadi pemimpin yang harus membuat keputusan sulit seperti mengorbankan teman demi kelompok. Tema ini terasa sangat gelap karena Umezu tidak ragu menunjukkan sisi terburuk manusia—bahkan anak kecil bisa menjadi egois, kejam, atau gila ketika kelaparan dan ketakutan menguasai. Ada kritik sosial halus tentang masyarakat Jepang pasca-perang: bagaimana institusi pendidikan yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat pertama kehancuran. Komik ini juga mengeksplorasi tema takdir dan makna hidup—mengapa mereka yang terpilih untuk bertahan, dan apa yang tersisa dari kemanusiaan ketika segalanya hilang. Banyak pembaca merasa terguncang karena cerita ini terlalu realistis dalam menggambarkan bagaimana trauma kolektif bisa menghancurkan ikatan sosial dan moral. Tidak ada pahlawan super atau akhir bahagia yang dipaksakan; hanya perjuangan mentah untuk tetap hidup sebagai manusia.

Gaya Seni yang Klasik tapi Sangat Mengganggu: Review Komik The Drifting Classroom

Gaya seni Kazuo Umezu di The Drifting Classroom sangat khas era 70-an: garis tebal, ekspresi wajah yang ekstrem, dan panel-panel yang penuh detail mengerikan. Wajah anak-anak sering digambar dengan mata besar yang penuh ketakutan atau mulut terbuka lebar saat berteriak, menciptakan rasa horor yang langsung. Saat adegan kekerasan atau kematian, Umezu tidak segan menampilkan darah, luka menganga, dan mayat dengan cara yang grafis untuk zamannya. Latar gurun dan reruntuhan digambar dengan atmosfer suram: bayangan panjang, angin kencang, dan langit yang selalu gelap memberikan rasa isolasi total. Teknik pengulangan gambar—seperti close-up wajah yang sama berulang kali—membuat pembaca ikut merasakan kepanikan yang tak henti. Meski gaya seni terasa klasik, justru itulah yang membuat horornya timeless: tidak bergantung pada efek modern, tapi pada ekspresi emosi mentah dan komposisi panel yang mencekam.

Kesimpulan

The Drifting Classroom adalah komik yang sulit dilupakan karena keberaniannya menunjukkan sisi tergelap dari anak-anak dan manusia secara keseluruhan tanpa kompromi. Kazuo Umezu menciptakan karya survival horror yang bukan tentang monster luar, melainkan tentang monster yang muncul dari dalam diri ketika peradaban runtuh. Meski ceritanya berat dan penuh kematian, pesan tentang ketahanan, kepemimpinan, dan arti menjadi manusia tetap kuat hingga akhir. Bagi penggemar horror psikologis, post-apocalyptic, atau cerita tentang anak-anak dalam situasi ekstrem, seri ini wajib dibaca meski dengan persiapan mental. Pada akhirnya, The Drifting Classroom mengingatkan bahwa horor terbesar sering datang dari keputusasaan yang lambat dan hilangnya harapan—sesuatu yang terasa sangat relevan bahkan di era sekarang. Karya ini tetap menjadi salah satu masterpiece horror manga yang paling berpengaruh sepanjang masa.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *