Review Komik A Silent Voice. Komik A Silent Voice (Koe no Katachi) karya Yoshitoki Ōima tetap menjadi salah satu karya paling berpengaruh dan banyak dibahas dalam manga modern. Awalnya berseri sebagai one-shot lalu dikembangkan menjadi seri lengkap, cerita ini mengikuti Shoya Ishida—seorang remaja yang dulu menjadi pengganggu utama terhadap Shoko Nishimiya, gadis tuli di kelasnya saat SD. Bertahun-tahun kemudian, setelah mengalami pengucilan sosial dan rasa bersalah yang membakar, Shoya mencari Shoko dengan tujuan meminta maaf dan menebus kesalahan masa lalunya. Komik ini bukan sekadar cerita tentang bullying atau penyandang disabilitas; ia adalah potret kompleks tentang penyesalan, penebusan, komunikasi lintas hambatan, dan proses sulit untuk memaafkan diri sendiri serta orang lain. Dengan pendekatan yang sangat manusiawi dan tanpa menghakimi, karya ini berhasil menyentuh hati pembaca dari berbagai latar belakang. BERITA BOLA
Gaya Seni yang Ekspresif dan Penuh Emosi: Review Komik A Silent Voice
Seni Yoshitoki Ōima di A Silent Voice terkenal dengan kemampuannya menyampaikan emosi melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang sangat detail. Mata karakter sering menjadi fokus utama—mata Shoko yang lembut namun sering tertunduk, mata Shoya yang penuh kegelisahan dan rasa bersalah, atau tatapan teman-teman sekelas yang berubah dari kebencian menjadi simpati. Panel-panel besar digunakan untuk menangkap momen keheningan yang bermakna, terutama saat komunikasi melalui bahasa isyarat atau catatan tulis tangan.
Latar belakang digambar dengan sederhana namun efektif—sekolah, jembatan, sungai—semua terasa familiar dan menekan, mencerminkan rasa sesak yang dirasakan karakter. Teknik visual seperti close-up tangan yang gemetar, bayangan panjang, atau ruang kosong di antara karakter berhasil menyampaikan isolasi emosional tanpa perlu dialog berlebihan. Gaya ini membuat pembaca tidak hanya membaca, tapi benar-benar “merasakan” beban emosional yang dibawa Shoya dan Shoko sepanjang cerita.
Karakter yang Sangat Manusiawi dan Perkembangan yang Mendalam: Review Komik A Silent Voice
Karakter di A Silent Voice adalah salah satu yang paling kompleks dan relatable dalam shojo/seinen. Shoya Ishida bukan penjahat kartun atau pahlawan instan; ia adalah anak yang dulu kejam karena ingin diterima teman, lalu menjadi korban bullying setelah kejadian itu terungkap. Perkembangannya dari remaja yang ingin menghilang menjadi seseorang yang berani menghadapi masa lalu terasa sangat organik dan menyakitkan. Shoko Nishimiya juga bukan korban pasif yang sempurna; ia punya kemarahan, rasa rendah diri, dan keinginan untuk diterima seperti orang lain.
Karakter pendukung seperti Yuzuru (adik Shoko), Nagatsuka, Ueno, dan teman-teman sekelas lain tidak sekadar pelengkap—masing-masing punya motivasi, luka, dan perkembangan sendiri. Persahabatan yang terbentuk di antara mereka terasa sangat realistis: penuh salah paham, pertengkaran, pengampunan, dan dukungan yang kadang datang terlambat. Komik ini berhasil menunjukkan bahwa bullying bukan hanya soal pelaku dan korban; ia melibatkan lingkungan sosial, rasa takut ditinggalkan, dan kesulitan berkomunikasi yang membuat luka semakin dalam.
Tema yang Berat namun Penuh Harapan
A Silent Voice bicara tentang tema besar dengan cara yang sangat halus: bullying dan dampak jangka panjangnya, komunikasi lintas hambatan (bahasa isyarat vs lisan), rasa bersalah yang menghancurkan diri, kekuatan memaafkan (baik diri sendiri maupun orang lain), dan pentingnya hubungan antarmanusia yang tulus. Komik ini tidak menghindari adegan yang berat—kekerasan fisik, percobaan bunuh diri, dan konflik emosional digambarkan secara frontal namun tetap penuh empati.
Pesan utamanya adalah bahwa penebusan tidak selalu berarti membuat segalanya kembali seperti semula—ia berarti belajar hidup dengan luka yang ada dan berusaha menjadi lebih baik. Komik ini juga menekankan bahwa komunikasi yang jujur dan empati bisa menjembatani perbedaan, bahkan ketika bahasa atau pengalaman hidup sangat berbeda. Ending cerita yang terbuka namun penuh harapan meninggalkan pembaca dengan perasaan campur aduk: sedih atas apa yang telah terjadi, tapi juga lega karena karakter-karakter akhirnya mulai menemukan kedamaian.
Kesimpulan
A Silent Voice adalah komik yang berhasil menggabungkan seni visual memukau, karakter yang sangat manusiawi, dan tema mendalam menjadi sebuah cerita yang tidak hanya menghibur tapi juga mengguncang dan menyembuhkan. Ia mengajarkan bahwa luka masa lalu tidak harus mendefinisikan masa depan, bahwa memaafkan (termasuk diri sendiri) adalah proses panjang, dan bahwa komunikasi yang tulus bisa menyembuhkan meski tidak menghapus apa yang sudah terjadi. Meski sudah berlalu bertahun-tahun, komik ini tetap relevan karena bicaranya tentang hal-hal yang tidak pernah usai: penyesalan, rasa bersalah, dan keberanian untuk memulai kembali. Bagi siapa saja yang pernah merasa bersalah atas sesuatu di masa lalu atau kesulitan memaafkan orang lain (atau diri sendiri), karya ini terasa seperti pengakuan yang sangat dibutuhkan. Jika Anda belum membacanya, ini adalah salah satu komik yang benar-benar layak dialami—tapi siapkan hati, karena ceritanya akan tinggal lama di pikiran dan perasaan.

