Review Komik A Silent Voice. A Silent Voice mengisahkan Shōya Ishida, anak laki-laki yang dulu memimpin bullying terhadap Shōko Nishimiya, teman sekelasnya yang tuli. Setelah Shōko pindah sekolah karena perundungan itu, Shōya tumbuh dengan rasa bersalah yang menghantui hingga SMA. Cerita dimulai saat ia berusaha menebus kesalahan masa lalu dengan mencari Shōko lagi, memulai perjalanan panjang penuh penyesalan, pertemuan kembali, dan pembelajaran tentang empati. Manga ini menggabungkan tema bullying, isolasi sosial, kesehatan mental, serta pengampunan dengan cara yang jujur dan tidak menghakimi. Tamat sejak 2014 dengan 7 volume, A Silent Voice masih terasa sangat relevan karena tidak menawarkan penyelesaian mudah; fokusnya pada proses panjang penyembuhan luka bagi korban dan pelaku.
Karakter yang Kompleks dan Penuh Lapisan
Shōya Ishida adalah protagonis yang jarang ditemui di manga: pelaku bullying yang kemudian dihantui rasa bersalah ekstrem, membuatnya menarik diri dari dunia sosial di masa SMA. Perkembangannya terasa sangat realistis—dari anak yang egois dan kejam menjadi seseorang yang berusaha memperbaiki diri meski sering gagal dan ditolak. Shōko Nishimiya bukan korban pasif; ia punya kekuatan batin yang luar biasa, tapi juga menyimpan luka dalam dan rasa rendah diri karena ketuliannya. Karakter pendukung seperti Yuzuru, Naoka, Tomohiro, serta teman-teman lama Shōya juga punya cerita sendiri yang menambah kedalaman—mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan cermin bagaimana bullying memengaruhi semua pihak. Ōima pandai menggambarkan emosi rumit: tatapan Shōya yang penuh penyesalan, senyum malu Shōko yang menyembunyikan sakit hati, atau amarah Yuzuru yang melindungi kakaknya. Interaksi antar karakter penuh ketegangan, penyesalan, dan harapan kecil yang membuat pembaca ikut merasakan beban emosional mereka. BERITA BASKET
Alur Cerita yang Emosional dan Tidak Terburu-buru: Review Komik A Silent Voice
Alur A Silent Voice bergerak lambat tapi penuh intensitas, lebih menekankan proses penyembuhan daripada plot cepat. Cerita dimulai dari masa kecil penuh kekejaman, lalu melompat ke masa SMA di mana Shōya berusaha menebus dosa dengan mencari Shōko. Tidak ada musuh besar atau happy ending instan; konflik muncul dari trauma yang belum sembuh, kesalahpahaman lama, dan usaha saling memahami yang sering gagal. Arc-arc seperti pertemuan kembali, festival sekolah, atau konfrontasi dengan teman-teman lama menjadi puncak emosional yang membuat pembaca ikut menahan napas. Ōima tidak menghindari sisi gelap bullying—ada adegan bunuh diri yang dicoba, rasa bersalah yang menghancurkan, serta penolakan yang menyakitkan. Pendekatan ini membuat cerita terasa seperti perjalanan nyata—penuh kegagalan, langkah mundur, dan kemajuan kecil yang akhirnya membawa harapan. Visual Ōima yang ekspresif dengan garis halus dan panel-panel kosong memperkuat rasa kesepian serta emosi yang tak terucapkan.
Pesan Mendalam tentang Pengampunan dan Penebusan: Review Komik A Silent Voice
A Silent Voice menonjol karena pesan utamanya: bullying meninggalkan luka permanen bagi korban dan pelaku, tapi pengampunan serta penebusan mungkin terjadi jika kedua pihak berani menghadapi masa lalu. Manga ini tidak memaafkan pelaku dengan mudah; Shōya harus bekerja keras untuk mendapatkan kepercayaan Shōko dan teman-temannya. Cerita ini mengajarkan bahwa empati tidak datang begitu saja—ia dibangun melalui usaha, kesalahan, dan kesabaran. Tak ada pahlawan sempurna; semua karakter punya kekurangan dan luka yang membuat mereka lebih manusiawi. Visual Ōima yang lembut dengan fokus pada ekspresi wajah dan bahasa isyarat Shōko memperkuat tema komunikasi dan pemahaman lintas perbedaan. Meski ada kritik soal beberapa bagian yang terasa berat, pesan tentang kesempatan kedua dan pentingnya mendengar orang lain tetap kuat dan menyembuhkan bagi pembaca yang pernah terlibat dalam bullying—baik sebagai korban, pelaku, atau saksi.
Kesimpulan
A Silent Voice adalah shojo yang berhasil menggambarkan luka bullying dengan kejujuran yang menyentuh hati, di mana penebusan bukan akhir bahagia instan, tapi proses panjang yang penuh rasa sakit dan harapan. Karakter kompleks, alur emosional yang dalam, serta tema tentang pengampunan dan empati membuatnya tetap menjadi bacaan favorit bagi banyak orang. Di tengah manga modern yang sering menghindari topik berat, A Silent Voice berani menyelami sisi gelap masa muda tanpa menghakimi. Bagi yang belum membaca, ini adalah komik yang pantas diberi kesempatan—ceritanya berat tapi penuh makna, penuh momen kecil yang menyentuh dan pelajaran besar tentang kemanusiaan. A Silent Voice mengingatkan bahwa mendengar suara orang lain—meski pelan atau diam—bisa mengubah hidup seseorang. Jika mencari shojo yang terasa seperti cermin untuk refleksi diri, A Silent Voice adalah pilihan tepat yang tidak akan mengecewakan.

