review-komik-my-little-monster

Review Komik My Little Monster

Review Komik My Little Monster. My Little Monster (Tonari no Kaibutsu-kun) adalah salah satu komik shojo paling segar dan berbeda yang pernah muncul di era 2010-an. Karya Robico yang mulai terbit pada tahun 2008 ini selesai dalam 13 volume pada 2013 dan masih sering dibaca ulang karena kombinasi romansa yang unik, humor tajam, dan karakter yang sangat tidak biasa. Cerita mengikuti Shizuku Mizutani, gadis SMA yang dingin, logis, dan hanya memikirkan nilai serta efisiensi hidup, serta Haru Yoshida, cowok aneh yang tiba-tiba menyatakan cinta padanya dengan cara paling kacau. Di balik premis “cowok liar jatuh cinta pada gadis es”, komik ini adalah kisah tentang dua orang yang sama-sama kesulitan memahami emosi dan hubungan sosial akhirnya belajar mencintai dan diterima apa adanya. Hampir satu dekade setelah tamat, My Little Monster masih terasa sangat hidup karena kejujuran emosional dan karakter yang tidak pernah berusaha jadi “sempurna”. BERITA BASKET

Karakter Utama yang Sangat Unik dan Berkembang: Review Komik My Little Monster

Shizuku Mizutani adalah heroine shojo yang benar-benar beda dari kebanyakan. Ia dingin, fokus pada nilai sekolah, dan tidak punya minat besar pada orang lain. Sikapnya yang datar dan logis sering membuat orang salah paham, tapi di balik itu ia sebenarnya sangat peduli—hanya tidak tahu cara menunjukkannya. Perkembangannya terasa sangat realistis: dari gadis yang menghitung segalanya menjadi seseorang yang belajar merasakan emosi, cemburu, marah, dan akhirnya berani mengakui perasaan tanpa malu.

Haru Yoshida adalah karakter pria paling “monster” tapi juga paling disayangi dalam shojo. Ia impulsif, mudah marah, suka berkelahi, dan sering bertindak tanpa mikir—tapi di balik itu ia sangat polos, tulus, dan haus akan kasih sayang. Haru bukan tipe “bad boy” klise yang tiba-tiba jadi lembut; ia tetap aneh dan sulit diprediksi sepanjang cerita. Perkembangannya juga lambat tapi sangat memuaskan—dari cowok yang tidak mengerti batasan menjadi seseorang yang belajar menghormati perasaan orang lain, terutama Shizuku.

Hubungan mereka berkembang sangat organik dan penuh kekonyolan: dari Haru yang mengaku cinta secara tiba-tiba, Shizuku yang langsung menolak, hingga keduanya saling memahami melalui pertengkaran, kejadian aneh, dan momen diam yang penuh makna. Chemistry mereka adalah salah satu yang paling kuat di shojo—penuh tarik ulur, tawa, dan kelembutan yang muncul perlahan.

Tema Penerimaan Diri dan Hubungan yang Tidak Biasa: Review Komik My Little Monster

My Little Monster bukan komik tentang cinta manis remaja biasa. Ia membahas tema penerimaan diri, mengatasi kesulitan bersosialisasi, dan bagaimana orang yang “aneh” tetap layak dicintai. Shizuku belajar bahwa emosi tidak selalu logis dan bahwa ia boleh merasakan sesuatu tanpa harus menghitung untung rugi. Haru belajar bahwa amarah dan impulsif bukan identitas tetap—ia bisa berubah meski lambat.

Komik ini juga menyoroti bahwa cinta tidak harus “normal” atau mengikuti pola standar. Hubungan Shizuku dan Haru penuh pertengkaran, salah paham, dan kekacauan, tapi justru itulah yang membuatnya terasa sangat nyata. Tema “kamu boleh berbeda dan tetap layak dicintai” terasa sangat kuat dan menyembuhkan bagi banyak pembaca yang pernah merasa tidak cocok dengan standar sosial.

Gaya seni Robico sangat khas: ekspresi wajah yang over-the-top saat komedi, lembut dan detail saat momen emosional. Desain karakter yang lucu dan beragam membuat setiap panel terasa hidup dan mudah diingat.

Dampak Budaya dan Relevansi Saat Ini: Review Komik My Little Monster

My Little Monster termasuk shojo yang paling banyak dibicarakan ulang di era modern, terutama setelah anime 2012 yang sangat populer membawanya ke penonton global. Banyak pembaca muda menemukan bahwa tema penerimaan diri, mengatasi kesulitan bersosialisasi, dan hubungan yang tidak konvensional masih sangat relevan di zaman sekarang yang penuh tekanan untuk “normal”.

Komik ini sering direkomendasikan sebagai “comfort read” sekaligus “motivational read” karena meski ada konflik berat, suasananya selalu penuh tawa dan harapan. Ending yang manis tapi realistis—tanpa terlalu sempurna—membuat pembaca merasa puas sekaligus sedih karena harus berpisah dengan karakter yang sudah seperti teman. Banyak yang berharap sekuel atau spin-off, tapi cerita utama sudah memberikan penutup yang emosional dan memuaskan.

Kesimpulan

My Little Monster adalah komik shojo yang luar biasa karena berhasil menggabungkan romansa unik, komedi absurd, dan pesan mendalam tentang penerimaan diri serta kekuatan ketulusan. Robico menciptakan karakter yang terasa hidup, penuh kekurangan tapi juga penuh harapan, serta cerita yang berkembang secara perlahan tapi sangat memuaskan. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak harus sempurna atau mengikuti pola standar; cukup dengan dua orang yang saling menerima dan tumbuh bersama. Di tengah banyak manga romansa yang fokus pada drama besar, My Little Monster memilih jalan yang lebih ringan tapi jauh lebih menyentuh. Hampir 20 tahun setelah debut, komik ini masih mampu membuat pembaca baru tertawa, menangis, dan merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri. My Little Monster bukan sekadar cerita tentang cowok pendek dan cewek tinggi—ia adalah pengingat lembut bahwa cinta sejati sering datang dalam bentuk paling tidak terduga, dan bahwa kita semua layak dicintai apa adanya.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *